UNAIR Blog Competition 2016

Selasa, 18 September 2018

PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PERAN RELAWAN


                                                            oleh: Disca Betty Viviansari

Indonesia adalah salah satu Negara berkembang yang berada di Asia Tenggara. Seperti Negara berkembang lainnya, Indonesia memiliki berbagai masalah baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, maupun pertahanan dan keamanan. Salah satu masalah kompleks dan krusial yang harus segera diselesaikan adalah masalah kemiskinan. Perluasan lapangan pekerjaan dan pembekalan ketrampilan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera telah menjadi pekerjaan pemerintah selama puluhan tahun. Sayangnya, upaya pemerintah sampai saat ini belum sepenuhnya membuahkan hasil. Hal tersebut sangat terlihat jelas ketika kita melihat angka kemiskinan di Indonesia yang masih tergolong tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret tahun 2012 adalah sebanyak 29,13 juta jiwa, kemudian pada bulan Maret tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 28,07 juta jiwa.

Penurunan angka kemiskinan yang terjadi salah satunya ada tak lepas dari peran relawan. Banyaknya relawan yang memberikan bantuan kepada rakyat miskin sedikit banyak dapat mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Bantuan yang para relawan berikan berbagai macam, mulai dari bantuan dana pendidikan, bantuan sosial, bantuan kesehatan, maupun berupa lapangan pekerjaan. Aksi relawan ini harus mendapatkan dukungan dari pemerintah, karena aktivitas relawan ini dapat kita manfaatkan sebagai salah satu cara untuk menanggulangi kemiskinan.

Memanfaatkan peran relawan sebagai salah satu cara untuk menanggulangi kemiskinan bukan berarti kita membudayakan masyarakat yang selalu bergantung pada bantuan. Bantuan yang diberikan oleh relawan harus dimanfaatkan secara maksimal dan bersifat berkelanjutan. Di sisi lain kita harus merubah pola pikir masyarakat yang hanya menengadahkan tangan. Perlu doktrin lebih dan menyeluruh untuk memberikan pemahaman bahwa bantuan yang diterima adalah sebagai modal, bukan sebagai ketergantungan.
Keberadaan sosok relawan saat ini menjadi cermin bahwa masih ada orang-orang berhati nurani yang tulus dan peduli dengan sesama. Kita perlu merenungkan bahwa hidup ini tidak hanya untuk berkompetisi, tetapi hidup ini untuk saling menghidupi. Maka dari itu, perlu penjaringan relawan yang lebih banyak agar semakin banyak masyarakat miskin mendapatkan bantuan yang dapat dijadikan sebagai bekal mengentaskan diri dari kemiskinan. Manajemen wilayah untuh pendistribusian bantuan juga perlu dilakukan. Hal ini dilakukan agar bantuan dapat sampai merata ke sasaran dan berbagai wilayah di Indonesia.

Selain manajemen wilayah, pengawasan secara berkala harus dilakukan untuk meminimalisir penyalahgunaan bantuan yang diberikan relawan kepada masyarakat miskin. Hal ini dilakukan bukan hanya sekedar kekhawatiran terhadap penyalahgunaan bantuan, melainkan sebagai bentuk dukungan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Disini peran relawan yang saya maksud adalah peran totalitas relawan sehingga tujuan awal dari penyaluran bantuan tetap tercapai.

Jadi, pemberian bantuan oleh relawan dapat menjadi salah satu cara untuk menanggulangi kemiskinan jika dilakukan secara menyeluruh, merata, dan dalam pengawasan. Bantuan yang diberikan dapat menjadi modal awal masyarakat miskin untuk mengentaskan diri dari garis kemiskinan. Saran saya, agar lebih banyak masyarakat miskin yang mendapat bantuan maka perlu dilakukan penjaringan jumlah relawan yang lebih banyak dan terorganisir. Pemerintah tidak boleh hanya memanfaatkan peran relawan, tetapi pemerintah harus tetap menjalankan program-programnya seperti koperasi, bantuan UKM dan bantuan usaha mikro. Dari sisi masyarakat sendiri juga harus diberikan pemahaman bahwa bantuan ini bersifat dukungan dan modal untuk mengentaskan diri dari kemiskinan, bukan sebuah ketergantungan. Diperlukan kerjasama baik dari relawan, pemerintah, dan masyarakat untuk mengoptimalkan peran relawan sebagai salah satu cara untuk menanggulangi kemiskinan dan sebagai langkah menuju Indonesia Sejahtera.

Selasa, 25 Oktober 2016

Flashback: Universitas Airlangga, Sebuah Mimpi yang Te-REALisasi

Siang ini di Koleksi Khusus Fakultas Hukum UNAIR, berawal dari niat mengerjakan tugas mata kuliah Hukum Pemilu, tiba-tiba teringat kejadian-kejadian yang membuat saya menjadi anak rantau dan akhirnya dapat duduk di tempat ini untuk berbagi kisah dengan kalian...

Masih teringat jelas dalam pikiran saya, pertama kali mendengar nama Universitas Airlangga atau UNAIR adalah ketika saya berusia 9 tahun. Saat itu saya sedang membaca novel lama dimana salah satu tokonya adalah seorang Ayah yang terpisah jauh karena putera sulungnya yang sedang merantau jauh untuk belajar, putera sulungnya itu adalah pelajar STOVIT (School Tot Opleiding Van Indische Tandarsten) yang saat ini telah bertransformasi menjadi Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR. Nah, sejak saat itu saya sangat ingin menjadi bagian dari salah satu Universitas terbaik di Indonesia itu.

Sumber: Dokumen Pribadi
Bermula dari keinginan seorang anak 9 tahun, ternyata sampai ketika duduk di kelas 12 SMA pun UNAIR masih membuat jatuh hati. Semakin saya ingin menjadi mahasiswa kampus ini, semakin saya mencari tahu informasi tentang kampus ini. Mulai dari profil, fasilitas, proses pendaftaran, prestasi yang dimiliki dan lain sebagainya. Tetapi sayangnya, semakin saya mengetahui tentang kampus impian saya semakin saya takut dan merasa berat untuk menghadapi sekian banyak pesaing. Untuk jurusan yang saya inginkan, Ilmu Hukum (salah satu program studi yang prestise selain kedokteran di Universitas ini)  hanya diterima 240 mahasiswa baru dari sekian ribu pendaftar. Ngeri!

Berbekal restu orang tua dan doa, bismillah... saya jadikan UNAIR  sebagai pilihan utama dan pertama dalam jalur SNMPTN 2014. Saat itu yang saya yakini adalah, ketika seseorang telah berusaha se-optimal mungkin, doa dan usaha yang dia lakukan tidak akan dihianati hasilnya. Misalnya pun hasilnya tidak sesuai dengan keinginan saya, saya ikhlas karena pasti ada jalan lebih baik dari Allah. 

27 Mei 2014, pengumuman jalur SNMPTN 2014. Karena koneksi internet HP lemot dan tidak ada modem di rumah sekitar jam 12.30 WIB saya ke WARNET demi melihat pengumuman lolos tidaknya saya di salah satu jalur masuk PTN ini. Perasaan deg-degan, campur aduk, wajar lah. Alhamdulillah.. saya lolos jalur undangan / SNMPTN 2014 di Universitas Airlangga dengan program studi S1 Ilmu Hukum. Sempat speechless karena ini adalah mimpi panjang saat saya 9 tahun, dan hari itu di usia saya ke-18 tahun, mimpi panjang saya terwujud! Walaupun SNMPTN 2014 adalah jalur tanpa tes, bagi saya ini bukan hasil instan, ini adalah hasil dari sebuah mimpi, proses, dan perjuangan yang panjang.

Dan sejak hari itu, sejak status Mahasiswa UNAIR resmi melekat pada diri saya, selain tanggung jawab baru yang lebih besar, disini segalanya berawal, segala sesuatu yang baru saya alami. Jangan khawatir, saya akan ceritakan di post selanjutnya.. 

Terima Kasih.

#UniversitasAirlangga #AirlanggaUniversity #UNAIR #HukumUNAIR #FakultasHukum #UNAIRSurabaya #ExcellentWithMorallity